Berangkat Senin malam dari Jakarta naik pesawat, baru balik Sabtu. Mohon doa selama perjalanan. Terima kasih.
Saya akan pulang ke Bali dalam rangka menghadiri pembakaran jenazah paman saya
not a poem
That night, i dreamt about her, again.
We talk, chat, joke around normally.
Like there was nothing ever happened between us,
beside a good friendship and a matching soul.
And now, we are strangers.
No, even worse, its like, we hope we don’t now each other
We throw our face everytime we met,
and we hope we never met.
I don’t know why i’m keeping this situation.
Maybe because this is the best way.
To kill that ‘little thing’ inside my heart.
The little thing that made me, can’t call us friends.
"Pernah kupikir ini tentang cinta. Oh, ternyata hanya sahabat setia."
duta.wordpress.com
Jadi, jika ada diantara Anda para pembaca blog yang punya blog di wordpress yang pernah saya mampiri dan secara tidak sengaja [meskipun ketidaksengajaan yang jelas-jelas disengaja] tertinggal jejak berupa comment dari account baru saya di wordpress, saya meminta maaf atas tipuan sesaat itu. Blog resmi saya untuk sementara ini masih berada di sini, [at]blogsome[dot]com.
*Saya sering takjub dengan kenyataan ini. Kenyataan bahwa orang-orang yang bernama duta, yang hanya empat karakter dan tidak susah-susah amat diejanya, tidak banyak yang ngeblog. Atau kalau saya salah, mungkin orang-orang yang bernama duta tidak bangga akan namanya sehingga tidak ingin menamakan blognya serupa namanya.
di-dekatnya-hanya-tusuk-gigi-sehingga-jadi-gila-lalu-memakannya]
sedang berduka
Seperti yang dulu, kali ini juga karena penyakit dan juga lagi-lagi diluar perkiraan. Maksudnya, tidak ada tanda-tanda kritis atau sebagainya. Tahu-tahu tadi siang saya menerima telepon dari mama saya, yang menangis, memberitahukan kabar duka ini. Tapi saya belum tahu kabar detailnya. Mungkin orangtua saya masih repot dan hingga malam ini pun belum menelepon lagi memberitahukan kabar. Hanya sms pemberitahuan tanggal penyiraman, dan pelebonnya [pembakarannya], 25 dan 26 April 2007.
Sesuai tradisi orang Bali, orang yang meninggal akan dikremasi dalam suatu upacara adat yang dikenal luas bernama ngaben. Mudah-mudahan, jika tidak terbentur tugas atau kuis mendadak, saya bisa menyempatkan diri untuk pulang dan membantu sanak keluarga di rumah.
Sekedar post untuk update blog
Maaf ya blog. Sudah cukup lama tidak diupdate isinya. Maaf juga bagi para pembaca [entah mengapa saya merasa harus meminta maaf kepada pembaca
]. Sebenarnya, ini adalah usaha yang ketiga kalinya [ya. ketiga kalinya] dalam mempublish post baru.
Usaha pertama digagalkan oleh rasa malas, dan usaha kedua digagalkan oleh munculnya bluescreen pada layar monitor saya. Tampaknya
sudah saatnya saya mengupgrade memori saya [memori komputer saya lebih tepatnya…]
Oke, coba saya ingat-ingat dulu apa yang ingin saya tuliskan pada usaha-usaha sebelumnya. Hmm, kalau tidak salah yang pertama, meminta maaf kepada blog dan pembaca atas tidak terupdatenya tusuk gigi ini. Selanjutnya…
Lupa. Hehehehe.
Oh iya, kalau tidak salah saya ingin memberikan review acara yang diadakan oleh unit saya, unit kesenian Bali MGG ITB, yaitu ‘Bali Tenget’, yang diadakan pada tanggal 6 April 2007 di lapangan Campus Center ITB. Oke reviewnya sebagai berikut:
Bisa dibaca di sini.
Heheheh… Punteun ya teh Rika, dipinjem reviewnya
Terus terang, sudah malas membahasnya. Selain memang karena acaranya sudah lama berlalu, ada insiden kecil yang membuat saya agak ‘terluka’. Saya kehilangan sebuah ponco dan sebuah tas termasuk isinya. Yaitu: agenda berisi catatan-catatan penting dan KSM [Kartu Studi Mahasiswa]
, kamen dan saput, [keduanya adalah sebutan dalam bahasa Bali untuk kain yang digunakan pada pakaian adat Bali sebagai pengganti celana] dan sebuah palu [kalau yang ini… ya palu. Pemukul paku, kalau tidak salah]
Hiks. Jadi teringat lagi. Kehilangan KSM itu pun belum diurus. [Ada yang tahu bagaimana prosedurnya mengurus KSM yang hilang?]
Oke, sebelum saya berlarut-larut dalam kesedihan saya, mari kembali ke topik. Selanjutnya apa lagi yang ingin saya post ya?
Kalau tidak salah saya juga ingin mereview film yang saya tonton hari senin, 9 April 2007 di bioskop Ciwalk XXI, yaitu TMNT, singkatan dari Teenage Mutant Ninja Turtles. Oke reviewnya seperti ini:
Bisa dibaca di salah satu link yang ditemukan di sini.
Hahahah. Lagi-lagi saya malas menulis reviewnya. Lagipula film ini saat ini sudah cukup lama beredar [Lain hal ketika saya menontonnya tanggal itu, masih fresh… Huh, bluescreen sialan.].
Hmm, apalagi yang ingin saya tulis waktu itu ya?
…
Tampaknya mengantuk telah mengambil alih sebagian space otak. Jadi, cukup sekian dulu saja post kali ini. Mudah-mudahan jarak ke post berikutnya tidak selama jarak post ini ke post sebelumnya. Masih banyak hal-hal yang ingin saya ceritakan, kepada anda pembaca blog, atau paling tidak kepada diri saya di masa depan yang membaca blog ini nanti. Hehe. Sudah mulai melantur rupanya…
dibalik acara jumat kemarin malam
saya kecewa sama seseorang,
karena dia melepaskan diri dari tanggung jawab dari suatu kepanitiaan di suatu acara karena suatu idealisme. Saking tingginya kebutuhan akan idelismenya, bahkan pada h-1 acara pun dia tidak menyempatkan diri untuk hadir barang sejenak, bahkan untuk sekedar sms menyampaikan excuse atau apa pun. Kalau pun memang mengejar idealisme itu, harusnya dia dari awal menolak tanggung jawab yang diserahkan padanya.
saya kecewa sama seseorang,
karena ketika teman-teman yang lain dan saya berharap dia datang, bukan hanya karena tanggung jawabnya, tapi juga karena nilai persahabatan, dia tidak juga datang. Dia tidak sempat merasakan nikmatnya kerja tim, meski dengan segala keterbatasan yang ada, tapi paling tidak, keringat, canda, tawa, dan lelah itu bisa menjadi suatu kisah klasik.
saya kecewa sama seseorang,
karena ketika teman-teman yang lain sudah berhenti berharap dia akan datang, tapi saya masih, dia tidak juga datang. Mungkin baginya saya sama seperti teman-teman yang lain. Yang berada pada kondisi ‘tidak ideal’ seperti yang diharapkannya itu. Pada kenyataannya saya menganggap dia mempunyai nilai lebih yang dibutuhkan oleh acara tersebut, meski tidak berada dalam tanggung jawabnya.
saya kecewa sama seseorang
karena di pagi hari keesokan harinya, hasil kerja keras itu menjadi sesuatu yang bisa dibanggakan. Ironisnya, terutama pada bagian yang harusnya menjadi tanggung jawabnya.
saya kecewa sama seseorang
karena dia tidak ikut menangis bersama, ketika hasil kerja keras semalaman itu harus diuji olehNya dengan setitik hujan bahkan detik-detik menjelang acara dimulai. Begitu juga dia tidak ikut tertawa lega bersama ketika ujian itu berhenti tepat pada saatnya, hingga semua kekhawatiran terbuang dan acara dapat berjalan.
saya kecewa sama seseorang
karena ternyata acara ini mungkin menjadi suatu tonggak perubahan pada organisasi tempat acara ini berjalan diatasnya. Dan dia tidak berada di dalamnya untuk ikut terlibat, padahal dengan segala keluhan-keluhannya akan idealismenya pada organisasi itu.
tapi saya lebih kecewa pada diri sendiri.
karena saya adalah adiknya, dan saya tidak bisa berbuat apa-apa atas kekecewaan-kekecewaan saya ini.
… the fuck
first, i felt incapabilities in my love life
after that, i felt uncomfortable at my unit
then, i felt stupid in any lectures
yesterday, i felt unaccepted in the class
now, i feel being such a trash
go dead den.
Bukan perasaan gw aja,ternyata habitat baru memang terasa lebih menyenangkan.
btw, happy birthday Oki.
at least, you are a friend.
lagi kecewa
apalagi kalo bukan masalah hati.
ta*k…
mau sampai kapan.
ternyata bener kata mama.
harus ati-ati.
ntar makan ati
ya kaya gini ini.
anj*ng.
review novel. 2 sekaligus.
Sebelum masuk ke novel yang pertama, jika ada di antara Anda pembaca yang berada pada lingkungan yang sama dengan saya. Please, jangan tanyakan bagaimana saya masih sempat membaca dua buah novel di tengah-tengah tugas-tugas yang berlimpah dan lautan ujian. Karena tentunya saya akan menjawab: "Tugas? Tugas apa?"
Novel pertama yang saya baca dan BELI [sengaja dikapitalkan untuk menekankan bahwa hal ini jarang terjadi pada saya] berjudul ‘Jangan Berkedip!’. Novel ini diberi judul seperti itu karena berisi kurang lebih 67 flash fiction. Ya. Ada banyak fiksi tentang the Flash disini. Karena itu Anda jangan berkedip, nanti the Flash-nya keburu lewat. Itulah alasan kenapa dinamakan seperti itu.
Oke, oke. saya bohong. Pertama, tidak ada cerita superhero sama sekali disini. Apalagi the Flash. Kedua, kalau Anda benar-benar tidak berkedip sewaktu membaca buku ini, tentunya hanya akan menyiksa mata Anda. Anda tidak ingin kan, pergi ke dokter THT setelah membaca novel ini? ..Kita lanjutkan.
Definisi flash fiction disini adalah cerita yang sangat pendek. [Begitu juga definisinya. Pendek.] Novel ini ditulis oleh pasangan penulis, Isman Hidayat Suryaman, dan Primadonna Angela Mertoyono. [Karena nama Isman agak mustahil menjadi nama wanita, tentunya Isman adalah sang suami, dan Donna adalah sang istri]. Saya pernah membaca secara biasa [baca: meminjam punya teman] novel ‘Bertanya atau Mati!’ karangan Isman H. S. Kelucuan novel bergenre komedi nonfiksi itu membuat saya terpingkal-pingkal. Sehingga saya tertarik terhadap om Isman [hasil karyanya, bukan orangnya] dan menemukan alamat blognya. Tidak salah, blognya juga kocak. Karena itu saya tertarik memburu karyanya yang lain. Dan itulah novel JB! ini.
Sedikit tentang novel ini, 67 flash fiction dari Isman dan Donna secara bergantian membawa saya pada paradigma menulis yang baru. Bahwa sebenarnya ada cerita, kisah, hal-hal yang bisa diceritakan secara singkat, dengan hanya 1-600 kata per cerita [Yeap, satu kata…]. Kebanyakan dari flash fiction ini memiliki twist ending. Hal inilah yang membuat suatu flash fiction meskipun singkat, tapi membekas.
Bahkan contoh cerita twist bahkan bisa Anda temukan pada covernya [yang sayangnya berilustrasi seperti cover novel-novel teenlit]. Pada cover depan terdapat gambar seorang wanita muda yang membawa handphone dan tas tangan ingin menyebrang jalan, ditarik tangannya dari belakang secara kasar oleh pemuda dengan penampilan berantakan. Perampokan? Tunggu sampai Anda membuka kuping (flap) sampul depan dan melihat gambarnya secara utuh. Kejadian sebenarnya yang terjadi adalah… Baca sendiri novelnya. Hehe.
Akhirnya kita memasuki review novel yang kedua, yang berjudul ‘Travelers Tale-Belok Kanan: Barcelona’. Berdasarkan pengalaman pribadi saya dan didukung komentar-komentar calon pembeli lainnya, novel ini sangat susah ditemukan di toko-toko buku. Tentunya ada dua hal yang kira-kira bisa menyebabkan kelangkaan ini terjadi. Apakah memang supply stocknya ke toko buku-toko buku yang cuma sedikit, atau karena terlalu banyak permintaan dari pasar. Akan tetapi melihat nama besar Gagas Media sebagai penerbit, rasanya kemungkinan kedua lebih masuk akal terjadi. Dengan kata lain, menurut saya, novel ini termasuk best seller.
Sebelum analisa saya terlalu panjang dan malah mengarang novel baru, "’Travelers Tale’ Buyer Tale-Belok Kanan:Habis, Belok Kiri:Anda belum beruntung" sebaiknya kita langsung saja masuk ke review novelnya.
Novel ini ditulis oleh empat orang penulis, Adhitya Mulya, Alaya Setya, Iman Hidajat, dan Ninit Yunita. Menurut blognya Alaya Setya, mereka berempat pertama kali bertemu lewat blog. Satu lagi bukti bahwa blog bukan hanya sekedar diary online.
Dalam menulis novel ini, keempat orang tersebut memiliki peranan yang berbeda-beda. Tentu saja peranan itu bukan berpikir, menulis, dan gelitikin yang nulis. Novel ini memiliki empat karakter utama, Francis, Retno, Farah, dan Ucup. Tiap karakter ditulis oleh penulis yang berbeda, sehingga berpengaruh positif pada pembedaan gaya bercerita masing-masing karakter.
Sesuai judulnya, novel ini bercerita tentang perjalanan keempat sahabat ini dari penjuru dunia yang berbeda-beda, ke Barcelona, berkat undangan pernikahan Francis. Dengan bumbu percintaan yang ringan, novel ini menjadi sebuah simbiosis antara novel roman dengan travel guide.
Novel ini bagus buat Anda yang mencari bacaan ringan sekaligus bermanfaat. Karena alurnya yang ringan dan penggunaan bahasa yang mudah dicerna, saya hanya membutuhkan waktu satu hari untuk membaca novel ini. Ya hanya satu hari [Ujian? Ujian apa?]. Selain itu, novel ini sangat informatif bagi para travelers atau disebut juga backpackers. Karena di sela-sela cerita para penulis menyelipkan tips-tips dalam melakukan perjalanan. Tips favorit saya, tips dalam menghadapi pendaratan pesawat darurat. Sangat mudah untuk diterapkan…
Moral dari review dua novel di atas adalah:
- Mengarang pendek, bukan berarti membuat cerpen.
- Jangan berhenti nge-blog. Siapa tahu Anda penulis novel berikutnya…
- Tugas dan Ujian apa?
- … [Silakan Anda isi sendiri]