Sebelum masuk ke novel yang pertama, jika ada di antara Anda pembaca yang berada pada lingkungan yang sama dengan saya. Please, jangan tanyakan bagaimana saya masih sempat membaca dua buah novel di tengah-tengah tugas-tugas yang berlimpah dan lautan ujian. Karena tentunya saya akan menjawab: "Tugas? Tugas apa?"
Novel pertama yang saya baca dan BELI [sengaja dikapitalkan untuk menekankan bahwa hal ini jarang terjadi pada saya] berjudul ‘Jangan Berkedip!’. Novel ini diberi judul seperti itu karena berisi kurang lebih 67 flash fiction. Ya. Ada banyak fiksi tentang the Flash disini. Karena itu Anda jangan berkedip, nanti the Flash-nya keburu lewat. Itulah alasan kenapa dinamakan seperti itu.
Oke, oke. saya bohong. Pertama, tidak ada cerita superhero sama sekali disini. Apalagi the Flash. Kedua, kalau Anda benar-benar tidak berkedip sewaktu membaca buku ini, tentunya hanya akan menyiksa mata Anda. Anda tidak ingin kan, pergi ke dokter THT setelah membaca novel ini? ..Kita lanjutkan.
Definisi flash fiction disini adalah cerita yang sangat pendek. [Begitu juga definisinya. Pendek.] Novel ini ditulis oleh pasangan penulis, Isman Hidayat Suryaman, dan Primadonna Angela Mertoyono. [Karena nama Isman agak mustahil menjadi nama wanita, tentunya Isman adalah sang suami, dan Donna adalah sang istri]. Saya pernah membaca secara biasa [baca: meminjam punya teman] novel ‘Bertanya atau Mati!’ karangan Isman H. S. Kelucuan novel bergenre komedi nonfiksi itu membuat saya terpingkal-pingkal. Sehingga saya tertarik terhadap om Isman [hasil karyanya, bukan orangnya] dan menemukan alamat blognya. Tidak salah, blognya juga kocak. Karena itu saya tertarik memburu karyanya yang lain. Dan itulah novel JB! ini.
Sedikit tentang novel ini, 67 flash fiction dari Isman dan Donna secara bergantian membawa saya pada paradigma menulis yang baru. Bahwa sebenarnya ada cerita, kisah, hal-hal yang bisa diceritakan secara singkat, dengan hanya 1-600 kata per cerita [Yeap, satu kata…]. Kebanyakan dari flash fiction ini memiliki twist ending. Hal inilah yang membuat suatu flash fiction meskipun singkat, tapi membekas.
Bahkan contoh cerita twist bahkan bisa Anda temukan pada covernya [yang sayangnya berilustrasi seperti cover novel-novel teenlit]. Pada cover depan terdapat gambar seorang wanita muda yang membawa handphone dan tas tangan ingin menyebrang jalan, ditarik tangannya dari belakang secara kasar oleh pemuda dengan penampilan berantakan. Perampokan? Tunggu sampai Anda membuka kuping (flap) sampul depan dan melihat gambarnya secara utuh. Kejadian sebenarnya yang terjadi adalah… Baca sendiri novelnya. Hehe.
Akhirnya kita memasuki review novel yang kedua, yang berjudul ‘Travelers Tale-Belok Kanan: Barcelona’. Berdasarkan pengalaman pribadi saya dan didukung komentar-komentar calon pembeli lainnya, novel ini sangat susah ditemukan di toko-toko buku. Tentunya ada dua hal yang kira-kira bisa menyebabkan kelangkaan ini terjadi. Apakah memang supply stocknya ke toko buku-toko buku yang cuma sedikit, atau karena terlalu banyak permintaan dari pasar. Akan tetapi melihat nama besar Gagas Media sebagai penerbit, rasanya kemungkinan kedua lebih masuk akal terjadi. Dengan kata lain, menurut saya, novel ini termasuk best seller.
Sebelum analisa saya terlalu panjang dan malah mengarang novel baru, "’Travelers Tale’ Buyer Tale-Belok Kanan:Habis, Belok Kiri:Anda belum beruntung" sebaiknya kita langsung saja masuk ke review novelnya.
Novel ini ditulis oleh empat orang penulis, Adhitya Mulya, Alaya Setya, Iman Hidajat, dan Ninit Yunita. Menurut blognya Alaya Setya, mereka berempat pertama kali bertemu lewat blog. Satu lagi bukti bahwa blog bukan hanya sekedar diary online.
Dalam menulis novel ini, keempat orang tersebut memiliki peranan yang berbeda-beda. Tentu saja peranan itu bukan berpikir, menulis, dan gelitikin yang nulis. Novel ini memiliki empat karakter utama, Francis, Retno, Farah, dan Ucup. Tiap karakter ditulis oleh penulis yang berbeda, sehingga berpengaruh positif pada pembedaan gaya bercerita masing-masing karakter.
Sesuai judulnya, novel ini bercerita tentang perjalanan keempat sahabat ini dari penjuru dunia yang berbeda-beda, ke Barcelona, berkat undangan pernikahan Francis. Dengan bumbu percintaan yang ringan, novel ini menjadi sebuah simbiosis antara novel roman dengan travel guide.
Novel ini bagus buat Anda yang mencari bacaan ringan sekaligus bermanfaat. Karena alurnya yang ringan dan penggunaan bahasa yang mudah dicerna, saya hanya membutuhkan waktu satu hari untuk membaca novel ini. Ya hanya satu hari [Ujian? Ujian apa?]. Selain itu, novel ini sangat informatif bagi para travelers atau disebut juga backpackers. Karena di sela-sela cerita para penulis menyelipkan tips-tips dalam melakukan perjalanan. Tips favorit saya, tips dalam menghadapi pendaratan pesawat darurat. Sangat mudah untuk diterapkan…
Moral dari review dua novel di atas adalah:
- Mengarang pendek, bukan berarti membuat cerpen.
- Jangan berhenti nge-blog. Siapa tahu Anda penulis novel berikutnya…
- Tugas dan Ujian apa?
- … [Silakan Anda isi sendiri]