Yeay.
Seribu.
Yeay.
Seribu.
Ini cerita ketika saya dan kakak saya pergi ke Gramedia Jalan Merdeka mencari buku yang dimaksud di sini. Dan kalau Anda belum baca, sebaiknya mampir kesana dulu.
Awalnya cuma menemani kakak memperbaiki printernya yang rusak di BEC. Karena diberitahu perbaikan akan memakan waktu satu jam, maka kami mengisi waktu menunggu dengan jalan-jalan ke Gramedia. Teringat sms teman saya itu, saya pun melakukan hunt buku yang dimaksud.
Agar pencarian berlangsung cepat, saya langsung berinisiatif bertanya di bagian informasi. Langsung berbicara dengan mbak-mbak bagian informasi [mmbi].
"Mbak, mau nanya buku EO For Teens dong, ada gak?"
"IO. gini mas?"
"bukan mbak, E O, singkatan dari event organizer"
"four tins?"
"bukan mbak, for teens, artinya untuk remaja"
"tinsnya dobel ‘e’ ato dobel ‘n’ mas?"
…
Pelajaran buat yang mau bikin toko buku, tolong kepandaian berbahasa Inggris resepsionis bagian informasi diperhatikan.
"di bagian psikologi mas."
Argh, akhirnya.
Hmm, foto saya terpampang di bagian psikologi. Menarik.
Mencarilah saya di bagian psikologi.
Kode 4xx Psikologi umum… tidak ada.
Kode 4xy Psikologi terapan… juga tidak ada.
Kode 4xz Psikologi anak… masa sih disini?
Kode 4yx Seksologi… Buset, tahu-tahu udah sampe disini. Masa iya, EO For Teens di Seksologi?
Kembali ke bagian informasi.
"Bisa tahu kodenya gak, mbak?"
"Bukunya gak ketemu ya mas? Kodenya ga ada, tapi petugas bagian itu ada, mau dipanggilin untuk bantu nyariin?" kata mmbi.
"Hmm, boleh deh."
Ternyata definisi dipanggilkan adalah, disebut namanya melalui speaker. Untung saya tidak menyebutkan tujuan saya mencari buku itu. Kebayang bunyi panggilannya:
"KEPADA PETUGAS BAGIAN PSIKOLOGI HARAP LAPOR KE BAGIAN INFORMASI. ADA MAS-MAS GEER DISINI YANG INGIN DIBANTU NYARI BUKU YANG MUAT MUKANYA DI COVER TANPA IJIN"
Dan itu dibacakan lewat speaker.
Mas-mas petugas bagian psikologi [mmpbp] pun datang dan ikut membantu mencari di bagian psikologi. Saya pikir dengan statusnya sebagai pegawai, dia punya cara yang lebih manjur. Tapi ternyata tidak. Dia melakukan hal yang sama dengan saya sebelumnya.
Kode 4xx Psikologi umum… tidak ada.
Kode 4xy Psikologi terapan…
Kode 4xz Psikologi anak…
Kode 4yx Seksologi… ARRGH.
Setelah 15 menit tanpa hasil, saya berinisiatif membatalkan pencarian. Saya mendekati mmpbp.
"Gak ada ya mas? Kalo gitu gapapa deh."
"Haduh, iya euy."
"Punten ya a’, keliatannya ada sedikit kesalahan. Harusnya buku tentang event organizer mah, adanya di bagian manajemen, bukan psikologi."
Semprul. Kenapa gak bilang dari tadi.
"Mau nyari disana aja a’?"
Karena rasa penasaran saya masih tinggi saya mengiyakan tawarannya.
Ditunjukkannya saya bagian manajemen.
Saya pun mencari. Di tengah-tengah pencarian saya, ternyata mmpbp tadi juga masih terus mencari. Bahkan juga karyawan yang lain. Salut saya akan prinsip manajemen gramedia yang mengutamakan kepuasan kustomernya. Tapi lama-lama jadi geli sendiri, mereka kelihatan serius dan sigap, padahal kalau bukunya ketemu toh saya cuma pengen lihat covernya saja. Hehe.
Jadi pengen ngebayangin muka mereka nanti jika bukunya ketemu,
"A’ ini bukunya.. hhah.. sudah ketemu… hh.. hah…."
Mmpbp ngos-ngosan.
"Tadi saya lari ke gudang di lantai atas. Untung ketemu disana…hhh."
"Wah, makasih ya mas. Segitunya. Saya cuma mau lihat covernya. Nah, ini loh mas. Ada foto saya. Hehe. Ngganteng kan mas saya ini. Nah, sekarang penasaran saya sudah ilang. Ini bukunya, silahkan ditaruh lagi di tempatnya. Kali ini yang bener ya mas, nanti kalo ada temen saya yang saya suruh cari buku ini biar mas gampang nyarinya. Sudah ya mas."
"…"
Oke, kembali ke dunia nyata. Setelah 15 kali putaran dan 2 kali bolak-balik ke kamar mandi. Pencarian masih menunjukkan hasil nihil. Yah, tampaknya saya tidak berjodoh dengan buku itu. Sekali lagi saya memutuskan menghentikan pencarian. Saya kembali mendekati mmpbp.
"Mas, kayaknya disini gak ada juga."
"Waduh iya euy. Punten pisan ya a’. Kayaknya buku yang aa’ cari itu emang bermasalah. Salah penempatan, salah jumlah stok tercatat, dsb, dsb. Dicari sampai ke lantai tiga juga ga ada a’. Sekali lagi punten ya."
Wew. Buku bermasalah. Apa gara-gara model covernya? Hahah.
Ketika akhirnya saya memutuskan untuk angkat kaki dari Gramedia tersebut, saya didatangi seorang mbak-mbak pegawai Gramedia [mmpg].
"Permisi, mas. Tadi nyari buku ini ya? EO For Teens?"
Mmpg menyodorkan buku yang dimaksud.
Hahaha. Hati saya sumringah. Ternyata ada…
Dan itulah pertemuan pertama saya dengan buku itu.
Setelah dapat bukunya, saya bingung. Niat awalnya kan cuma cari, lihat, kagumi kegantengannya model covernya, taruh lagi di tempatnya, lalu kabur. Lha, bukunya langsung mampir ke tangan saya, mau ditaruh dimana? Kalau ditaruh sembarangan begitu saja, mata-mata [eyes, bukan spy] tajam mas-mas pbp dan mmbi masih tertuju pada saya. Sebagai pelanggan yang nyusahin tepatnya. Jadi segan mau meninggalkan buku itu begitu saja, belum lagi kalau ternyata mereka tidak terima bukunya tidak jadi dibeli.
"Mas, ini bukunya ketinggalan."
"Oh, memang saya ga jadi beli kok."
"MAS, INI BUKUNYA KETINGGALAN*"
Akh, akhirnya beli juga. Itupun setelah dapat pertimbangan dari kakak.
"Den, kalo kamu ga beli, ada berapa kemungkinan sih, orang-orang bakal liat-liat buku, trus nemu itu kamu? Kamu yang nyari aja, ketemunya susahnya setengah mati, apalagi yang cuma liat-liat."
"Kalo kamu beli, kamu sudah membuka kemungkinan 6 orang bakal liat buku itu dan notice muka kamu disana"
[penghuni kosan saya ada 8, termasuk saya dan kakak saya -red]
Satu hal yang saya tangkap dari saran kakak saya. Kakak saya ingin adiknya eksis. Ugh.
Akhirnya terjadilah pertama kalinya dalam hidup saya, saya membeli buku karena covernya, bukan karena isinya.**
–
*Efeknya akan makin terasa jika sambil diacungkan pisau atau benda tajam lainnya.
**Berbeda dengan orang yang tertarik cover suatu buku lalu mencoba membaca isinya. Dalam kasus saya. Saya membeli buku HANYA untuk covernya. Tidak tertarik sama sekali membaca isinya…
Beberapa waktu yang lalu saya dan teman lama saya ketika smp, berbalas pesan singkat [sms] akibat trigger dari teman lama saya tersebut. Pesan-pesannya sendiri sudah saya hapus. Di bawah ini detailnya hanya rekaan kira-kira saya.
saya: ha? MODEL COVER BUKU?
tlks: iya, buku judulnya EO for Teens.
saya: serius? salah liat kali.
tlks: iya. aku lagi di gramedia nih. lagi megang bukunya.
saya: gak percaya. kapan terakhir kamu liat aku coba? masih inget gak sama mukaku?
tlks: yey, mukamu gak sejelek itu kali biar mudah dilupain. emang kamu ga tau? wah, harus minta royalti nih.
saya: huh, bilang aja ngganteng. iya, aku sama sekali ga tau. describe me di cover itu.
tlks: dasar narsis. kamu lagi pake udeng ungu sama baju safari biru, aku langsung notice, kamu kan pernah bilang kalo ikut baleganjur. btw, kamu manis juga disana.
saya: *blush* ehm.. dah tahu. safari biru? itu kan seragam unit. oh, aku lagi pake baju Bali? bentar-bentar. kurang menjelaskan. aku sendirian? segede apa emang fotonya?
tlks: ada temen-temenmu juga kok. fotomu di cover belakang. gak begitu gede. tapi lumayan langsung ke-notice kok.
saya: ow, jadi berbanyak? cover belakang? akh, kecewa…
penasaran nih. kamu beli gak bukunya?
tlks: dasar. ngarep jadi model tunggal cover depan yah? buat apa kubeli. lagian ini udah gak di gramed.
saya: yeah, kan katanya ada fotoku. beli bukunya buat covernya, bukan buat isinya. hehe. btw, thanks for the info yah.
saya: sial. masih aja cewe matre. btw, udah sampe rumah ini? lagi ngapain?
dst.
–
Yang menjadi permasalahan saya adalah, legalkah hal ini? Dalam artian hal ini adalah memuat foto yang berkaitan dengan seseorang yang sama sekali tidak tahu menahu mengenai pemuatannya ke dalam suatu bentuk yang nantinya akan diproduksi massal untuk kemudian diperjual belikan.
Untuk kasus saya mungkin orang akan berkata,
Yup, itu benar. Untuk kasus ini saya sendiri pun tidak mempermasalahkan. Akan tetapi lain halnya kalau misalkan, teman saya tahu-tahu mengirim sms yang isinya,
Ini namanya pencemaran nama baik.
Atau mungkin terjadi kasus seperti ini. Gara-gara foto orang beken yang ditempel jadi cover suatu buku, penjualan buku tersebut jadi laris manis. Kalau berprinsip keadilan, bukankah seharusnya orang beken tersebut berhak menerima sebagian dari keuntungan penjualan buku tersebut, atas andilnya melariskan buku tersebut? [Mungkin ini penyebab pendesain cover buku EO For Teens memasang foto saya…]
![]()
–
NB: gambar diambil dari sini, dan telah diedit oleh dende.
Penjelasan ilmiahnya bisa dibaca di sini.
Penjelasan tidak ilmiahnya [versi dende] bisa dibaca di bawah ini:
Eksperimen ini dilakukan oleh seorang ilmuan fisika bernama Erwin Schroedinger yang bertujuan untuk mengilustrasikan kekurangan teori mekanika kuantum pada awalnya. Saya tidak akan menjelaskan mekanika kuantum disini karena saya sendiri nggak ngerti bukan seorang fisikawan, tapi bagi saya eksperimen ‘kucing Schroedinger’ ini menarik. Bayangkan, seekor kucing bisa hidup dan mati di waktu yang bersamaan. Hehe.
Sebelum jadi membingungkan, saya akan jelaskan tahapan eksperimennya. Seekor kucing yang masih hidup diletakkan di dalam sebuah kotak yang memiliki rangkaian alat sebagai berikut: Suatu Geiger Counter berisi suatu zat radioaktif yang kemudian disambungkan dengan suatu mekanisme yang bisa memecahkan sebuah tabung kaca berisi gas beracun mematikan. Peluang untuk zat radioaktif tersebut untuk meluruh dalam waktu satu jam adalah fifty : fifty. Jika terjadi peluruhan, maka Geiger Counter tertrigger, tabung kaca pecah, gas beracun menyebar dalam kotak, kucing pun mati. Jika tidak terjadi peluruhan, kucing tetap hidup. Sederhana sebenarnya.
Teori yang dikemukakan oleh Schroedinger adalah, selama satu jam, kucing tersebut akan berada pada dua kondisi sekaligus. Hidup DAN mati. Ketika setelah satu jam seseorang memutuskan untuk mengecek isi kotak tersebut, maka keseimbangan kuantum [jangan tanya saya apa arti kata-kata ini] kotak tersebut akan terganggu dan kondisi dualisme tadi terpecahkan. Kucing hanya hidup ATAU hanya mati. Sederhana bukan?
![]()
Bagi Anda yang pernah menonton dan mengikuti film serial sliders, atau menonton filmnya Jet Li yang berjudul the one pasti akan dengan mudah mengerti maksud saya. Kedua film ini berlatar belakang dunia paralel yang benar-benar nyata dan manusia dengan suatu metode tertentu, bisa mengalami perjalanan antara dunia paralel ini.
Saya sendiri memiliki pandangan sendiri terhadap teori dunia paralel tersebut. Bagi saya dunia paralel itu ada. Maya [bukan nama sebenarnya, bahkan bukan nama orang]. Kemayaan dunia paralel disini maksudnya: ada, tetapi kita tidak bisa berinteraksi dengan entitas di dalamnya. Saya mengilustrasikan keparalelan dunia disini dengan banyak garis yang saling bersilangan. Dimana satu garis menggambarkan sebuah dunia/universe.
Dunia paralel ada, ketika manusia dihadapkan pada suatu persimpangan, atau suatu hal yang membuat seseorang memilih. Penjelasan ini dapat dipermudah dengan susah, dengan menggunakan eksperimen ‘kucing Schrodinger’ [Penjelasan tentang eksperimen ini bisa dibaca di sini]. Dimana saat pelaku eksperimen memutuskan untuk membuka kotak maka otomatis akan tercipta dua dunia yang baru. Dunia pertama dimana kucing ditemukan hidup, dan dunia satunya dimana kucing ditemukan mati.
Contoh lain, ketika seseorang, sebut saja -tanpa bermaksud mendiskreditkan orang bernama budi- bernama dende, dihadapkan pada suatu pilihan yang mengharuskan dia memilih antara A, B, C, D, atau E [anggap saja dende sedang menghadapi SPMB]. Maka akan terciptalah dunia-dunia dengan dende-dendenya masing-masing sesuai pilihannya masing-masing. Pada dunia pertama dende memilih A, pada dunia kedua dia memilih B, dan juga seterusnya sampai pilihan E. Selain itu muncul juga dunia dimana dende memutuskan untuk tidak memilih apa-apa [karena kalau salah nilainya minus], atau dunia lain lagi dimana dende memutuskan untuk lari meninggalkan ruang kelas [karena kena diare misalnya], atau dunia lain dengan situasi yang tak hingga banyaknya.
Karena hal tersebut berlaku untuk setiap manusia maka jumlah dunia paralel yang ada bisa dihitung. Yaitu jumlah manusia yang ada di muka bumi dikali jumlah pilihan-pilihan yang ada di tiap detik kehidupan tiap individu. Hasilnya tak hingga. Karena jumlah pilihan yang dihadapi tiap manusia dalam hidupnya tak hingga. Mulai dari persimpangan skala besar [memilih calon istri, yang seperti Dian Sastro atau Luna Maya; memilih jurusan tempat kuliah; memilih ingin komentar di post ini atau tidak], hingga skala kecil [memilih ngupil pakai kelingking atau jempol, pakai tangan kiri atau tangan kanan, pakai tangan sendiri atau tangan teman].
Tentunya banyak dunia paralel yang berbeda berarti banyak cerita hidup yang berbeda. Misalnya dengan contoh ekstrim, masih pada contoh dengan tokoh yang sama, pada dunia dengan dende memilih pilihan A, dende bisa lulus SPMB; diterima masuk jurusan komputer Institut Ternama di Bandung; diwisuda dengan sukses; jadi enterpreneur; lalu berakhir jadi orang kaya raya [amin]. Atau contoh lain, pada dunia dengan dende memilih untuk lari, ia tidak lulus SPMB; depresi; jadi gila; berakhir di Institut Tempat orang Bodoh [istilah lain yang maksa dari institusi perawatan orang cacat mental].
Masih berada dalam pandangan saya, ending-ending yang berbeda tadi, tidak mutlak terjadi hanya karena satu langkah awal. Akan tetapi terdapat percabangan-percabangan yang memungkinkan ending yang berbeda. Sebagai contoh, dende yang memilih pilihan A, bisa saja juga berakhir di Institut Tempat orang Bodoh. Misalnya, di tengah-tengah masa kuliahnya, di semester 6 misalnya, beban kuliah yang overload membuatnya jadi stres; kemudian dia jadi gila.
Atau mungkin malah kasus sebaliknya, dende yang tidak lulus SPMB; depresi; in spite of jadi gila dia menulis buku; ternyata bukunya laris; jadilah orang kaya raya. Intinya, suatu akhir cerita [dende kaya raya atau dende gila], dapat ditempuh dari dunia-dunia yang berbeda, seperti halnya satu awal cerita [dende menghadapi SPMB] dapat menimbulkan dunia-dunia yang berbeda.
Sebenarnya pemikiran saya belum berhenti sampai disini. Masih ada lanjutannya. Akan tetapi karena tampaknya terlalu panjang, saya bagi saja postingan kali ini menjadi dua bagian.
]. Selain itu recent comments juga berhasil ditambahkan [akh, ternyata kodenya cuma 4 line…
], dan berbagai penyesuaian lainnya. Memang perubahannya tidak total, seperti mengganti theme, seperti yang dilakukan beberapa teman saya baru-baru ini, tapi perubahan desain ini cukup menyegarkan bagi saya. Mudah-mudahan jadi tambah semangat nge-blognya. Satu hal yang pasti saya dapat sebagai pembelajaran, jika mau terjadi perubahan di MGG, dibutuhkan pemimpin-pemimpin baru yang visioner. Tidak perlu revolusioner, cukup punya cita-cita dan harapan akan kehidupan MGG yang lebih baik, maka MGG akan selamat. Saya berharap, teman-teman yang akan maju menjadi calon ketua nanti, benar-benar mempunyai visi yang bisa diperjuangkan. Hidup MGG. Salam Siktar!
NB: Sebagai selingan, untuk memperindah post kali ini. Saya masukkan poster kampanye calon ketua nomor urut 2 dari pemilihan ketua MGG 2006/2007.
NBnya NB: Sungguh, gak ada maksud politis atau apa pun. Ini murni cuma bagian dari fungsi blog yang ‘membantu mengenang masa lalu’ [meski ternyata masa lalu tersebut sungguh kelam. hahahah…]
pokoknya hectic banget dah.
Sebelumnya saya ingin sedikit bercerita tentang latar belakang dan motivasi saya untuk masuk ke dalam lingkaran dalam kabinet KM ITB. Awalnya dimulai dengan rasa jenuh dengan kehidupan. Kehidupan pribadi saya mulai dari segi aktivitas, tujuan hidup, ditambah kekecewaan disana sini, maupun dengan hilangnya seorang teman. Setengah menyalahkan Kabinet KM 06/07 sebagai penyebab salah satu kejenuhan, yaitu lemahnya gairah kehidupan kampus saat itu, terlintas dalam pikiran saya kritik dan kritik terhadap kabinet KM saat itu.
Sebuah prinsip pernah terdengar di telinga saya, jika seseorang menginginkan suatu perubahan terhadap suatu keadaan, maka ia akan lebih mudah mencapai perubahan yang ia inginkan dengan menggerakkan roda perubahan tersebut dari dalam, atau dengan kata lain, menjadi pelaku aktif perubahan tersebut. Hal ini yang menyebabkan kadang terlintas dalam pikiran saya saat itu untuk bergabung dengan kabinet KM yang baru. Apalagi setelah mengetahui presiden kabinet KM baru yeng terpilih, bang Ijul, memiliki dukungan massa yang dekat dengan lingkungan pergaulan saya.
Pemikiran menjadi kesempatan ketika saya bertemu dengan Shana, yang kebetulan menjadi calon kuat menteri pada kabinet KM yang baru. Teman saya itu, memberikan tawaran untuk bekerja bersama dalam bidang KOMINFO, komunikasi dan informasi. Selain karena latar belakang pemikiran saya tadi, spontanitas saya, yang untungnya sampai saat ini belum sampai membuat saya terbunuh, membuat saya menerima tawaran tadi dalam satu kalimat ajakan saja, berbeda dengan teman sejurusan saya yang ini.
Dalam perjalanannya, tawaran sekedar bekerja bersama tadi ternyata diekskalasi oleh Shana menjadi tawaran menjadi wakil menteri kominfo. Awalnya saya terkejut. Memangnya siapa saya? Saya anak kemarin sore yang belum pernah bergerak di lingkungan semacam ini tiba-tiba ditawari memegang jabatan yang menurut saya cukup penting. Hal ini membuat saya tidak segera mengatakan ya. Anehnya Shana, tidak menerima alasan saya tersebut sebagai pembenaran untuk menolak. Dia menekankan kepada saya pentingnya kapabilitas, kemauan, dibandingkan kapasitas, kesanggupan. Sekian kali obrolan saya bersamanya hanya mampu mengikis sedikit keraguan saya.
Hingga tadi pagi. Singkat cerita kemarin petang hingga tadi siang, calon kabinet KM yang baru mengadakan acara muker, musyawarah kerja, yang diadakan di vila istana bunga. Hitung-hitung refreshing, saya membawa keraguan saya mengikuti acara tersebut. Disana, saya benar-benar seperti murid pindahan baru. Banyak sekali wajah-wajah yang belum saya kenal, ataupun hanya tahu sebatas nama. Dan anehnya saya tidak merasakan ketidaknyamanan. Sisi sosial saya kali ini sedang terbuka. Saya menikmati berkenalan dengan orang-orang baru yang notabene memiliki visi-visi yang besar, saya menikmati berbagi cerita maupun sekedar berbagi asap rokok. Entah mungkin juga karena mereka orang-orang yang enak diajak bicara dan bercanda.
Titik runtuhnya keraguan saya adalah ketika sang calon presiden kabinet baru, Bang Ijul, menyampaikan visi, tujuan, arah gerakan kabinet KM selama satu tahun. Saya sebagai salah satu dari sekian mahasiswa yang apatis terhadap negara Indonesia, sangat takjub akan pola pikir Bang Ijul. Saya tidak menyangka bahwa beliau membawa visi yang begitu besar tentang bangsa Indonesia ini. Yang padahal tanggung jawab ini hanya diembannya dalam masa satu tahun. Satu masa yang cukup singkat bagi saya untuk visi sebesar itu. Dan tidak ada sedikit pun keraguan bahwa ia akan gagal menghadapi misinya.
Saya tertohok. Selama ini saya adalah seorang individu yang egois. Yang hanya memikirkan kepentingan perut sendiri, dan kenyamanan tidur sendiri. Saya sama sekali tidak memiliki rasa cinta terhadap bangsa. Saya tergugah. Berada pada lingkungan itu membuat saya semakin ingin melakukan kontribusi. Terhadap diri saya sendiri, terhadap keluarga, terhadap ITB, terhadap bangsa Indonesia. Mungkin apa yang saya utarakan sangat utopis, tapi mungkin memang butuh hal-hal yang utopis untuk membuat orang seperti saya tergerak.
Yeah, sepertinya kita langsung ke kesimpulan saja. Saya akui, saya masih butuh banyak belajar. Terutama sih, belajar bagaimana menjadi pemimpin. Semoga amanah yang saya emban kali ini dapat membuat perubahan. Bukan hanya bagi diri saya sendiri, tapi paling tidak bagi orang-orang lain di sekitar saya, dan mudah-mudahan juga bagi ITB, sampai bagi bangsa Indonesia. Amin.
Tadi saya terdampar lagi di blognya mas isman. Orang yang satu ini emang gila kocaknya. Saya menemukan lelucon yang ga tahan pengen saya quote untuk dimasukin disini. Langsung aja deh.
… a detective series called "Get Serious". It’d be about a private investigator named "John Serious". He’d approach people and say, "John Serious, Private Eye. Has anyone seen this dog?"
"You’re kidding, aren’t you?" they’d ask.
To which he’d say, "No, I’m Serious."
His business card would go something like this;
Update (thanks to Wikan and Haris.)Serious, John, P.I.
"When the going gets tough, get Serious."
The archenemy would be the master of disguise, James Kidding and his evil assistant, Robert Confused. And their typical encounter would be like this;
John : Can you tell me where to find Mr. Kidding?
James : Oh, I can tell you all right.
Robert : (turns to James) Sir, you’re serious?
James : I am.
John : What do you mean? I’m Serious.
James : Well, I’m Kidding.
John : You make me confused.
Robert : No, that’d be me.
John : Wait, wait. This is going nowhere. Let’s start with our names first. I’m Serious. And you’re Mr..?
James : A simple Kidding would be fine.
John : I’m sorry, what?
James : Just Kidding.
John : Well, that doesn’t help.
Robert : I’m Confused.
James : Aren’t we all?
Diambil dari sini.