Ini sekilas tentang apa yang saya lakukan di Bali selama kurang lebih 6 hari (23-28 April):
Hari pertama, saya sampai di bandara internasional Ngurah Rai sekitar jam setengah 12 malam waktu setempat. Gara-gara delay sialan yang saya alami sekitar 2 jam di bandara Cengkareng. Mungkin penyebabnya gara-gara cuaca yang buruk. Di Bandung saja, paginya, kabut tampak menghiasi seisi kota, hal yang sangat jarang terjadi [hubungannya apa dengan cuaca buruk? jangan tanya. namanya juga pengarang]. Untung saat itu kami dikompensasikan dengan makan malam gratis dari pihak Lion Air.
Sampai di rumah langsung unpack dan tidur. Kamar sendiri, oh, kangennya.
Hari kedua, pagi dihiasi dengan berbincang bersama orangtua. Suatu hal yang sangat jarang terjadi. Saling melempar kabar dan cerita pun terjadi. Sayangnya anggota keluarga yang satu lagi tidak bisa ikut. Sepertinya dia sedang bahagia-bahagianya mengerjakan tugas-tugas kuliah, seperti halnya teman-teman saya yang lain.
Jam setengah 3 kami berangkat menuju kampung halaman di desa Bondalem, Singaraja. Sebelumnya mampir dulu ke rumah saudara yang katanya mau menumpang ikut. Seperti biasa kalau anak-anaknya pulang ke rumah, ayah saya tidak membiarkan dirinya menjadi budak mobil. Jadilah saya yang didapuk menjadi, SUPIR. Duh, enaknya berada di belakang setir lagi. Tidak seperti di Bandung dimana kondisi mahasiswa dan kapasitas ekonomi hanya cukup membuat berada di belakang stang. Tapi itu sudah cukup kok.
]Rumah yang kami tuju adalah rumah keluarga besar ibu saya, peninggalan almarhum kakek saya, yang kemudian diwariskan ke paman saya sehingga sekaligus menjadi rumah tinggal paman saya. Belakangan hanya tinggal beliau, istrinya, dan anak bungsunya saja yang menempati rumah besar itu, karena tiga orang anaknya telah hijrah ke denpasar untuk sekolah.
Sesampainya disana, saya langsung menghampiri peti mati [sebenarnya bukan peti mati, tapi untuk memudahkan penyebutannya kita sebut saja, peti mati] paman saya. Wajahnya tidak terlihat, karena peti mati itu diisi es sampai menutupi seluruh tubuh paman saya. Terjawab sudah pertanyaan bagaimana bisa jenazah beliau tidak membusuk padahal tanggal kematiannya sudah berselang tepat seminggu sebelumnya. Tiap beberapa jam sekali, es tersebut ditambah untuk menggantikan es yang sudah mencair. Agak repot sih, tapi lebih mudah dibandingkan dikubur terlebih dulu.
Hari itu tidak ada upacara yang berarti, hanya sekedar menyambut sanak keluarga yang sowan dan mampir untuk mengucapkan turut berduka cita.
Hari keempat adalah hari terakhir jasad paman saya berada di bumi. Karena hari itu diadakan pelebon. Atau pembakaran jenazahnya. Sedari pagi rumah besar kami sudah penuh dengan orang-orang. Ada yang sanak saudara, ada yang tetangga yang ingin ikut membantu. Itulah yang saya banggakan dari desa kami dan desa-desa di Bali pada umumnya. Ketika ada kegiatan atau upacara besar, semua orang sebisa mungkin ikut turun tangan membantu, dan memang banyak sekali hal yang harus dikerjakan. Bagi kaum wanita: membuat banten [semacam sesajen] dan menyiapkan makanan. Bagi kaum pria: membuat wadah atau bade [tempat jenazah diarak menuju tempat pembakaran] dan membuat alat-alat yang dibutuhkan untuk upacara. Dan fyi, jumlahnya banyak sekali. Hal ini tidak menjadi masalah karena terimbangi. Hehe. Jumlah sanak keluarga saya, banyak, sangat. Saudara kandung ibu saya ada 8 yang masih hidup. Belum lagi ditambah sepupu-sepupunya, yang mana ternyata kakek saya bersaudara 12. Kalau dimisalkan tiap saudara kakek seperti kakek saya, punya 10 anak, berarti saya punya 117 paman atau bibi. Belum lagi dimisalkan mereka masing-masing punya anak dua. Huahuaha.
Pertama jenazah dipindahkan dari bale gede, yang difungsikan menjadi rumah duka, ke wadah. Kemudian wadah diarak orang-orang menuju setra atau kuburan. Disana tungku pembakaran jenazah sudah dipersiapkan. Kemudian jenazah paman saya diletakkan di dalam tungku dan kemudian api dinyalakan. Api pun menyala hebat berkat bantuan tungku. Dan kurang dari satu jam, jenazah paman saya telah menjadi abu.
Sisa pembakaran, berupa abu dan tulang-tulang, dikumpulkan dan kemudian dimasukkan ke dalam suatu tempat. Lalu setelah mengalami proses yang panjang [panjang, benar-benar panjang] arak-arakan kembali bergerak menuju segara atau laut. Yang terletak hanya beberapa meter dari setra. Beberapa orang dari kami yang membawa abu, pergi ke tengah laut dengan menggunakan jukung, sejenis perahu nelayan, lalu kemudian menebarkan abu tadi ke laut. Lalu upacara pelebon berakhir dan semua orang kembali ke rumah masing-masing. Sementara kami, sebagian besar keluarga pulang ke rumah besar.
Ternyata upacara tidak hanya sampai disana. Petang sampai malamnya, ada upacara lagi. Saya tidak tahu persis istilah upacaranya apa, yang saya tangkap sih tujuan upacara ini secara simbolis memohon bantuan kepada para leluhur untuk menuntun jalan paman saya di alam sana hingga sampai pada tempatNya. Upacaranya berisi pembakaran daun-daunan dan banten yang menjadi simbol, kemudian abu hasil pembakaran tadi lagi-lagi diantarkan bersama-sama ke laut untuk ditebarkan. Bedanya tidak perlu ke tengah laut menggunakan jukung, hanya dari pinggir pantai saja.
Hari kelima, adalah hari yang paling menyenangkan. Karena kegiatan hari itu sesuai jadwal acara, adalah ngajar-ajar ke Pura Besakih. Kenapa menyenangkan, karena hari itu saya bisa sekalian berwisata. Ngajar-ajar adalah upacara sembahyang ke pura-pura besar, yang entah bagaimana ada hubungannya dengan keluarga kami, dan itu berarti, jalan-jalan. Hehe. Tujuan dari upacaranya sih masih sama, melancarkan jalan paman saya supaya tenang di alam sana.
Kami semua berangkat menggunakan mobil. Karena memang kita keluarga [sangat] besar jumlah mobil yang berangkat kurang lebih 11 mobil [ditengah jalan jadi 10, karena mobil sepupu saya mogok].
Pemberhentian pertama rombongan di Pura Penulisan, di daerah Penulisan. Tidak sembahyang, hanya istirahat. Berikutnya Pura Ulundanu di Kintamani. Sembahyang sekali. Pemandangan disini indah, ditambah udara sejuk Kintamani yang seperti udara Bandung malam. Setelah itu rombongan bergerak agak jauh ke arah Karangasem, langsung ke Pura Besakih. Pura terbesar di Bali. Di sana rombongan kami beberapa kali melakukan persembahyangan di tempat-tempat yang berbeda.
Setelah sembahyang terakhir dilakukan, menjelang petang, rombongan pulang. Beberapa ada yang langsung pulang ke rumahnya masing-masing di Denpasar maupun Singaraja. Kami sekeluarga seperti biasa pulang ke rumah besar.
Demikian cerita perjalanan saya yang telah saya usahakan menjadi sesingkat mungkin. Ada beberapa bagian kecil yang meski tidak saya cantumkan tapi cukup mengubah sedikit pola pikir dan cara pandang saya menghadapi dunia. Mungkin nanti bisa saya bagi.