Sebelumnya saya ingin sedikit bercerita tentang latar belakang dan motivasi saya untuk masuk ke dalam lingkaran dalam kabinet KM ITB. Awalnya dimulai dengan rasa jenuh dengan kehidupan. Kehidupan pribadi saya mulai dari segi aktivitas, tujuan hidup, ditambah kekecewaan disana sini, maupun dengan hilangnya seorang teman. Setengah menyalahkan Kabinet KM 06/07 sebagai penyebab salah satu kejenuhan, yaitu lemahnya gairah kehidupan kampus saat itu, terlintas dalam pikiran saya kritik dan kritik terhadap kabinet KM saat itu.
Sebuah prinsip pernah terdengar di telinga saya, jika seseorang menginginkan suatu perubahan terhadap suatu keadaan, maka ia akan lebih mudah mencapai perubahan yang ia inginkan dengan menggerakkan roda perubahan tersebut dari dalam, atau dengan kata lain, menjadi pelaku aktif perubahan tersebut. Hal ini yang menyebabkan kadang terlintas dalam pikiran saya saat itu untuk bergabung dengan kabinet KM yang baru. Apalagi setelah mengetahui presiden kabinet KM baru yeng terpilih, bang Ijul, memiliki dukungan massa yang dekat dengan lingkungan pergaulan saya.
Pemikiran menjadi kesempatan ketika saya bertemu dengan Shana, yang kebetulan menjadi calon kuat menteri pada kabinet KM yang baru. Teman saya itu, memberikan tawaran untuk bekerja bersama dalam bidang KOMINFO, komunikasi dan informasi. Selain karena latar belakang pemikiran saya tadi, spontanitas saya, yang untungnya sampai saat ini belum sampai membuat saya terbunuh, membuat saya menerima tawaran tadi dalam satu kalimat ajakan saja, berbeda dengan teman sejurusan saya yang ini.
Dalam perjalanannya, tawaran sekedar bekerja bersama tadi ternyata diekskalasi oleh Shana menjadi tawaran menjadi wakil menteri kominfo. Awalnya saya terkejut. Memangnya siapa saya? Saya anak kemarin sore yang belum pernah bergerak di lingkungan semacam ini tiba-tiba ditawari memegang jabatan yang menurut saya cukup penting. Hal ini membuat saya tidak segera mengatakan ya. Anehnya Shana, tidak menerima alasan saya tersebut sebagai pembenaran untuk menolak. Dia menekankan kepada saya pentingnya kapabilitas, kemauan, dibandingkan kapasitas, kesanggupan. Sekian kali obrolan saya bersamanya hanya mampu mengikis sedikit keraguan saya.
Hingga tadi pagi. Singkat cerita kemarin petang hingga tadi siang, calon kabinet KM yang baru mengadakan acara muker, musyawarah kerja, yang diadakan di vila istana bunga. Hitung-hitung refreshing, saya membawa keraguan saya mengikuti acara tersebut. Disana, saya benar-benar seperti murid pindahan baru. Banyak sekali wajah-wajah yang belum saya kenal, ataupun hanya tahu sebatas nama. Dan anehnya saya tidak merasakan ketidaknyamanan. Sisi sosial saya kali ini sedang terbuka. Saya menikmati berkenalan dengan orang-orang baru yang notabene memiliki visi-visi yang besar, saya menikmati berbagi cerita maupun sekedar berbagi asap rokok. Entah mungkin juga karena mereka orang-orang yang enak diajak bicara dan bercanda.
Titik runtuhnya keraguan saya adalah ketika sang calon presiden kabinet baru, Bang Ijul, menyampaikan visi, tujuan, arah gerakan kabinet KM selama satu tahun. Saya sebagai salah satu dari sekian mahasiswa yang apatis terhadap negara Indonesia, sangat takjub akan pola pikir Bang Ijul. Saya tidak menyangka bahwa beliau membawa visi yang begitu besar tentang bangsa Indonesia ini. Yang padahal tanggung jawab ini hanya diembannya dalam masa satu tahun. Satu masa yang cukup singkat bagi saya untuk visi sebesar itu. Dan tidak ada sedikit pun keraguan bahwa ia akan gagal menghadapi misinya.
Saya tertohok. Selama ini saya adalah seorang individu yang egois. Yang hanya memikirkan kepentingan perut sendiri, dan kenyamanan tidur sendiri. Saya sama sekali tidak memiliki rasa cinta terhadap bangsa. Saya tergugah. Berada pada lingkungan itu membuat saya semakin ingin melakukan kontribusi. Terhadap diri saya sendiri, terhadap keluarga, terhadap ITB, terhadap bangsa Indonesia. Mungkin apa yang saya utarakan sangat utopis, tapi mungkin memang butuh hal-hal yang utopis untuk membuat orang seperti saya tergerak.
Yeah, sepertinya kita langsung ke kesimpulan saja. Saya akui, saya masih butuh banyak belajar. Terutama sih, belajar bagaimana menjadi pemimpin. Semoga amanah yang saya emban kali ini dapat membuat perubahan. Bukan hanya bagi diri saya sendiri, tapi paling tidak bagi orang-orang lain di sekitar saya, dan mudah-mudahan juga bagi ITB, sampai bagi bangsa Indonesia. Amin.