Malam ini saya belajar banyak lagi. Kali ini tentang sekolah saya yang lain, sebuah unit bernama resmi Unit Kesenian Bali Maha Gotra Ganesha Institut Teknologi Bandung. Yang biasa dipanggil Maha Gotra Ganesha, disingkat MGG dibaca em-ge-ge. Ceritanya, tadi malam, atau barusan, kami mengadakan laporan pertanggung jawaban kepengurusan 2006/2007. Dihadiri sekitar 40-50 orang anggota biasa MGG hingga anggota luar biasa (alumni). Banyak hal yang saya pelajari disana. Tapi ada satu hal yang menurut saya vital dan penting untuk jadi bahan pembelajaran. Pentingnya visi seorang pemimpin.
Berada di banyak organisasi, atau sekolah, membuat saya banyak melakukan studi banding. Salah satu yang kontras dalam hal ini adalah MGG dan Kabinet KM ITB. Maksud saya kontras dalam hal visi pemimpinnya tentunya. Di MGG, saya sebagai salah satu pengurus, ketua divisi PSDA malah, jarang merasa saya adalah pengurus. Entah apakah itu salah saya yang gak bisa menyamakan pandangan dengan pemimpin saya di MGG, atau memang sang pemimpinnya sendiri memang gak punya pandangan apa-apa untuk MGG kedepannya. Saya memiliki proker hantu, yang meski tidak dikerjakan pun sepertinya tidak apa-apa. Saya tahu kalau kesalahan dilimpahkan kepada saya pun, saya pasti akan terima sepenuh hati untuk saya pertanggung jawabkan. Tapi sekali lagi, tanpa bermaksud menyalahkan siapa-siapa, kalau saja waktu itu saya mengerti arah gerak saya, paling tidak saya punya sedikit motivasi untuk mengerjakan proker-proker tadi. Sementara itu sebagai perbandingan, di kabinet, visi pemimpinnya, dalam hal ini bang Ijul, sangat jelas. Besar tapi bukan bual. Tinggi tapi bukan mimpi.
Oh, saya baru ingat. Perbandingan saya salah. Seharusnya saya tidak membandingkan. Yang satu diakhir kepengurusan, yang satunya diawal kepengurusan. Siapa yang tahu diawal kepengurusannya, ketua MGG 06/07 sebenarnya punya visi gemilang, tapi ternyata meredup menghadapi realitas kehidupan organisasi? Dan siapa juga yang tahu apakah nantinya visi ijul akan tetap berkibar atau malah tenggelam dengan dunia kemahasiswaan ITB yang ‘freak-anjis’? Ya sudah, kalau begitu cukup sampai segini perbandingan saya.
Satu hal yang pasti saya dapat sebagai pembelajaran, jika mau terjadi perubahan di MGG, dibutuhkan pemimpin-pemimpin baru yang visioner. Tidak perlu revolusioner, cukup punya cita-cita dan harapan akan kehidupan MGG yang lebih baik, maka MGG akan selamat. Saya berharap, teman-teman yang akan maju menjadi calon ketua nanti, benar-benar mempunyai visi yang bisa diperjuangkan. Hidup MGG. Salam Siktar!
NB: Sebagai selingan, untuk memperindah post kali ini. Saya masukkan poster kampanye calon ketua nomor urut 2 dari pemilihan ketua MGG 2006/2007.
NBnya NB: Sungguh, gak ada maksud politis atau apa pun. Ini murni cuma bagian dari fungsi blog yang ‘membantu mengenang masa lalu’ [meski ternyata masa lalu tersebut sungguh kelam. hahahah…]