Beberapa waktu yang lalu saya dan teman lama saya ketika smp, berbalas pesan singkat [sms] akibat trigger dari teman lama saya tersebut. Pesan-pesannya sendiri sudah saya hapus. Di bawah ini detailnya hanya rekaan kira-kira saya.
teman lama ketika smp(tlks): den, kok gak bilang-bilang jadi model cover buku?
saya: ha? MODEL COVER BUKU?
tlks: iya, buku judulnya EO for Teens.
saya: serius? salah liat kali.
tlks: iya. aku lagi di gramedia nih. lagi megang bukunya.
saya: gak percaya. kapan terakhir kamu liat aku coba? masih inget gak sama mukaku?
tlks: yey, mukamu gak sejelek itu kali biar mudah dilupain. emang kamu ga tau? wah, harus minta royalti nih.
saya: huh, bilang aja ngganteng. iya, aku sama sekali ga tau. describe me di cover itu.
tlks: dasar narsis. kamu lagi pake udeng ungu sama baju safari biru, aku langsung notice, kamu kan pernah bilang kalo ikut baleganjur. btw, kamu manis juga disana.
saya: *blush* ehm.. dah tahu. safari biru? itu kan seragam unit. oh, aku lagi pake baju Bali? bentar-bentar. kurang menjelaskan. aku sendirian? segede apa emang fotonya?
tlks: ada temen-temenmu juga kok. fotomu di cover belakang. gak begitu gede. tapi lumayan langsung ke-notice kok.
saya: ow, jadi berbanyak? cover belakang? akh, kecewa…
penasaran nih. kamu beli gak bukunya?
tlks: dasar. ngarep jadi model tunggal cover depan yah? buat apa kubeli. lagian ini udah gak di gramed.
saya: yeah, kan katanya ada fotoku. beli bukunya buat covernya, bukan buat isinya. hehe. btw, thanks for the info yah.
tlks: hu. asem. den, kalo dah dapet duit royaltinya inget transfer ke sini ya. jangan lupa cost infonya.
saya: sial. masih aja cewe matre. btw, udah sampe rumah ini? lagi ngapain?
dst.
–
Hmm. Akhirnya kemarin saya dapat bukunya. EO For Teens, Bisnisnya Anak Sekolahan. Ditulis oleh Ryu Tri. Diterbitkan oleh penerbit DAR! Mizan. Benar apa kata teman saya, ada foto saya disana. Lebih tepatnya ada foto beberapa anak MGG yang sedang pentas di CC [campus center] ITB. Konsep covernya, kolase foto-foto acara atau kegiatan, dan di cover belakang juga, ada foto sekelompok orang yang tampak seperti panitia suatu acara. Mungkin konsep cover ini dibuat sesuai konsep bukunya membahas E[vent] O[rganizer] untuk remaja.
Yang menjadi permasalahan saya adalah, legalkah hal ini? Dalam artian hal ini adalah memuat foto yang berkaitan dengan seseorang yang sama sekali tidak tahu menahu mengenai pemuatannya ke dalam suatu bentuk yang nantinya akan diproduksi massal untuk kemudian diperjual belikan.
Untuk kasus saya mungkin orang akan berkata,
"Memangnya kenapa sih den? Toh kamu gak rugi ini."
Yup, itu benar. Untuk kasus ini saya sendiri pun tidak mempermasalahkan. Akan tetapi lain halnya kalau misalkan, teman saya tahu-tahu mengirim sms yang isinya,
"Den, muka kamu kok ada di cover buku ‘69 posisi seks terbaru’?"
atau
"Den, kamu salah satu pembunuh terkeji abad ini ya? Foto mukamu di buku itu gak nahan deh."
Ini namanya pencemaran nama baik.
Atau mungkin terjadi kasus seperti ini. Gara-gara foto orang beken yang ditempel jadi cover suatu buku, penjualan buku tersebut jadi laris manis. Kalau berprinsip keadilan, bukankah seharusnya orang beken tersebut berhak menerima sebagian dari keuntungan penjualan buku tersebut, atas andilnya melariskan buku tersebut? [Mungkin ini penyebab pendesain cover buku EO For Teens memasang foto saya…]
Secara default, saya tidak menuntut materi apa-apa dari penulis maupun penerbit buku ini. Yang saya inginkan hanyalah penjelasan. Bagaimana foto saya dan teman-teman saya bisa ada menjadi cover buku itu. Karena bagi saya ini adalah suatu pembelajaran. Siapa yang tahu suatu hari nanti saya mungkin akan menjadi penulis buku juga.
Btw, ini cover buku yang bersangkutan. Foto saya ada pada objek yang diberi lingkaran merah.

–
NB: gambar diambil dari sini, dan telah diedit oleh dende.
Ini penjelasan eksperimen ‘kucing Schroedinger’ dari post yang
ini.
Penjelasan ilmiahnya bisa dibaca di sini.
Penjelasan tidak ilmiahnya [versi dende] bisa dibaca di bawah ini:
Eksperimen ini dilakukan oleh seorang ilmuan fisika bernama Erwin Schroedinger yang bertujuan untuk mengilustrasikan kekurangan teori mekanika kuantum pada awalnya. Saya tidak akan menjelaskan mekanika kuantum disini karena saya sendiri nggak ngerti bukan seorang fisikawan, tapi bagi saya eksperimen ‘kucing Schroedinger’ ini menarik. Bayangkan, seekor kucing bisa hidup dan mati di waktu yang bersamaan. Hehe.
Sebelum jadi membingungkan, saya akan jelaskan tahapan eksperimennya. Seekor kucing yang masih hidup diletakkan di dalam sebuah kotak yang memiliki rangkaian alat sebagai berikut: Suatu Geiger Counter berisi suatu zat radioaktif yang kemudian disambungkan dengan suatu mekanisme yang bisa memecahkan sebuah tabung kaca berisi gas beracun mematikan. Peluang untuk zat radioaktif tersebut untuk meluruh dalam waktu satu jam adalah fifty : fifty. Jika terjadi peluruhan, maka Geiger Counter tertrigger, tabung kaca pecah, gas beracun menyebar dalam kotak, kucing pun mati. Jika tidak terjadi peluruhan, kucing tetap hidup. Sederhana sebenarnya.
Teori yang dikemukakan oleh Schroedinger adalah, selama satu jam, kucing tersebut akan berada pada dua kondisi sekaligus. Hidup DAN mati. Ketika setelah satu jam seseorang memutuskan untuk mengecek isi kotak tersebut, maka keseimbangan kuantum [jangan tanya saya apa arti kata-kata ini] kotak tersebut akan terganggu dan kondisi dualisme tadi terpecahkan. Kucing hanya hidup ATAU hanya mati. Sederhana bukan?

Pernah dengar teori dunia paralel atau dalam bahasa Inggrisnya
parallel universe? Teori dunia paralel menyatakan bahwa kehidupan manusia beserta alam semesta ini [
universe] sebenarnya ada banyak. Banyak semesta ini berjalan secara paralel satu sama lain. Meskipun ini hanya teori yang kebanyakan hanya muncul di cerita fiksi, tetapi ide akan adanya
multiverse ini cukup populer. Keterangan tentang
multiverse dan
paralel universe lebih lanjut bisa dibaca di salah satu link yang muncul di
sini.
Bagi Anda yang pernah menonton dan mengikuti film serial sliders, atau menonton filmnya Jet Li yang berjudul the one pasti akan dengan mudah mengerti maksud saya. Kedua film ini berlatar belakang dunia paralel yang benar-benar nyata dan manusia dengan suatu metode tertentu, bisa mengalami perjalanan antara dunia paralel ini.
Saya sendiri memiliki pandangan sendiri terhadap teori dunia paralel tersebut. Bagi saya dunia paralel itu ada. Maya [bukan nama sebenarnya, bahkan bukan nama orang]. Kemayaan dunia paralel disini maksudnya: ada, tetapi kita tidak bisa berinteraksi dengan entitas di dalamnya. Saya mengilustrasikan keparalelan dunia disini dengan banyak garis yang saling bersilangan. Dimana satu garis menggambarkan sebuah dunia/universe.
Dunia paralel ada, ketika manusia dihadapkan pada suatu persimpangan, atau suatu hal yang membuat seseorang memilih. Penjelasan ini dapat dipermudah dengan susah, dengan menggunakan eksperimen ‘kucing Schrodinger’ [Penjelasan tentang eksperimen ini bisa dibaca di sini]. Dimana saat pelaku eksperimen memutuskan untuk membuka kotak maka otomatis akan tercipta dua dunia yang baru. Dunia pertama dimana kucing ditemukan hidup, dan dunia satunya dimana kucing ditemukan mati.
Contoh lain, ketika seseorang, sebut saja -tanpa bermaksud mendiskreditkan orang bernama budi- bernama dende, dihadapkan pada suatu pilihan yang mengharuskan dia memilih antara A, B, C, D, atau E [anggap saja dende sedang menghadapi SPMB]. Maka akan terciptalah dunia-dunia dengan dende-dendenya masing-masing sesuai pilihannya masing-masing. Pada dunia pertama dende memilih A, pada dunia kedua dia memilih B, dan juga seterusnya sampai pilihan E. Selain itu muncul juga dunia dimana dende memutuskan untuk tidak memilih apa-apa [karena kalau salah nilainya minus], atau dunia lain lagi dimana dende memutuskan untuk lari meninggalkan ruang kelas [karena kena diare misalnya], atau dunia lain dengan situasi yang tak hingga banyaknya.
Karena hal tersebut berlaku untuk setiap manusia maka jumlah dunia paralel yang ada bisa dihitung. Yaitu jumlah manusia yang ada di muka bumi dikali jumlah pilihan-pilihan yang ada di tiap detik kehidupan tiap individu. Hasilnya tak hingga. Karena jumlah pilihan yang dihadapi tiap manusia dalam hidupnya tak hingga. Mulai dari persimpangan skala besar [memilih calon istri, yang seperti Dian Sastro atau Luna Maya; memilih jurusan tempat kuliah; memilih ingin komentar di post ini atau tidak], hingga skala kecil [memilih ngupil pakai kelingking atau jempol, pakai tangan kiri atau tangan kanan, pakai tangan sendiri atau tangan teman].
Tentunya banyak dunia paralel yang berbeda berarti banyak cerita hidup yang berbeda. Misalnya dengan contoh ekstrim, masih pada contoh dengan tokoh yang sama, pada dunia dengan dende memilih pilihan A, dende bisa lulus SPMB; diterima masuk jurusan komputer Institut Ternama di Bandung; diwisuda dengan sukses; jadi enterpreneur; lalu berakhir jadi orang kaya raya [amin]. Atau contoh lain, pada dunia dengan dende memilih untuk lari, ia tidak lulus SPMB; depresi; jadi gila; berakhir di Institut Tempat orang Bodoh [istilah lain yang maksa dari institusi perawatan orang cacat mental].
Masih berada dalam pandangan saya, ending-ending yang berbeda tadi, tidak mutlak terjadi hanya karena satu langkah awal. Akan tetapi terdapat percabangan-percabangan yang memungkinkan ending yang berbeda. Sebagai contoh, dende yang memilih pilihan A, bisa saja juga berakhir di Institut Tempat orang Bodoh. Misalnya, di tengah-tengah masa kuliahnya, di semester 6 misalnya, beban kuliah yang overload membuatnya jadi stres; kemudian dia jadi gila.
Atau mungkin malah kasus sebaliknya, dende yang tidak lulus SPMB; depresi; in spite of jadi gila dia menulis buku; ternyata bukunya laris; jadilah orang kaya raya. Intinya, suatu akhir cerita [dende kaya raya atau dende gila], dapat ditempuh dari dunia-dunia yang berbeda, seperti halnya satu awal cerita [dende menghadapi SPMB] dapat menimbulkan dunia-dunia yang berbeda.
Sebenarnya pemikiran saya belum berhenti sampai disini. Masih ada lanjutannya. Akan tetapi karena tampaknya terlalu panjang, saya bagi saja postingan kali ini menjadi dua bagian.