Bagi Anda yang pernah menonton dan mengikuti film serial sliders, atau menonton filmnya Jet Li yang berjudul the one pasti akan dengan mudah mengerti maksud saya. Kedua film ini berlatar belakang dunia paralel yang benar-benar nyata dan manusia dengan suatu metode tertentu, bisa mengalami perjalanan antara dunia paralel ini.
Saya sendiri memiliki pandangan sendiri terhadap teori dunia paralel tersebut. Bagi saya dunia paralel itu ada. Maya [bukan nama sebenarnya, bahkan bukan nama orang]. Kemayaan dunia paralel disini maksudnya: ada, tetapi kita tidak bisa berinteraksi dengan entitas di dalamnya. Saya mengilustrasikan keparalelan dunia disini dengan banyak garis yang saling bersilangan. Dimana satu garis menggambarkan sebuah dunia/universe.
Dunia paralel ada, ketika manusia dihadapkan pada suatu persimpangan, atau suatu hal yang membuat seseorang memilih. Penjelasan ini dapat dipermudah dengan susah, dengan menggunakan eksperimen ‘kucing Schrodinger’ [Penjelasan tentang eksperimen ini bisa dibaca di sini]. Dimana saat pelaku eksperimen memutuskan untuk membuka kotak maka otomatis akan tercipta dua dunia yang baru. Dunia pertama dimana kucing ditemukan hidup, dan dunia satunya dimana kucing ditemukan mati.
Contoh lain, ketika seseorang, sebut saja -tanpa bermaksud mendiskreditkan orang bernama budi- bernama dende, dihadapkan pada suatu pilihan yang mengharuskan dia memilih antara A, B, C, D, atau E [anggap saja dende sedang menghadapi SPMB]. Maka akan terciptalah dunia-dunia dengan dende-dendenya masing-masing sesuai pilihannya masing-masing. Pada dunia pertama dende memilih A, pada dunia kedua dia memilih B, dan juga seterusnya sampai pilihan E. Selain itu muncul juga dunia dimana dende memutuskan untuk tidak memilih apa-apa [karena kalau salah nilainya minus], atau dunia lain lagi dimana dende memutuskan untuk lari meninggalkan ruang kelas [karena kena diare misalnya], atau dunia lain dengan situasi yang tak hingga banyaknya.
Karena hal tersebut berlaku untuk setiap manusia maka jumlah dunia paralel yang ada bisa dihitung. Yaitu jumlah manusia yang ada di muka bumi dikali jumlah pilihan-pilihan yang ada di tiap detik kehidupan tiap individu. Hasilnya tak hingga. Karena jumlah pilihan yang dihadapi tiap manusia dalam hidupnya tak hingga. Mulai dari persimpangan skala besar [memilih calon istri, yang seperti Dian Sastro atau Luna Maya; memilih jurusan tempat kuliah; memilih ingin komentar di post ini atau tidak], hingga skala kecil [memilih ngupil pakai kelingking atau jempol, pakai tangan kiri atau tangan kanan, pakai tangan sendiri atau tangan teman].
Tentunya banyak dunia paralel yang berbeda berarti banyak cerita hidup yang berbeda. Misalnya dengan contoh ekstrim, masih pada contoh dengan tokoh yang sama, pada dunia dengan dende memilih pilihan A, dende bisa lulus SPMB; diterima masuk jurusan komputer Institut Ternama di Bandung; diwisuda dengan sukses; jadi enterpreneur; lalu berakhir jadi orang kaya raya [amin]. Atau contoh lain, pada dunia dengan dende memilih untuk lari, ia tidak lulus SPMB; depresi; jadi gila; berakhir di Institut Tempat orang Bodoh [istilah lain yang maksa dari institusi perawatan orang cacat mental].
Masih berada dalam pandangan saya, ending-ending yang berbeda tadi, tidak mutlak terjadi hanya karena satu langkah awal. Akan tetapi terdapat percabangan-percabangan yang memungkinkan ending yang berbeda. Sebagai contoh, dende yang memilih pilihan A, bisa saja juga berakhir di Institut Tempat orang Bodoh. Misalnya, di tengah-tengah masa kuliahnya, di semester 6 misalnya, beban kuliah yang overload membuatnya jadi stres; kemudian dia jadi gila.
Atau mungkin malah kasus sebaliknya, dende yang tidak lulus SPMB; depresi; in spite of jadi gila dia menulis buku; ternyata bukunya laris; jadilah orang kaya raya. Intinya, suatu akhir cerita [dende kaya raya atau dende gila], dapat ditempuh dari dunia-dunia yang berbeda, seperti halnya satu awal cerita [dende menghadapi SPMB] dapat menimbulkan dunia-dunia yang berbeda.
Sebenarnya pemikiran saya belum berhenti sampai disini. Masih ada lanjutannya. Akan tetapi karena tampaknya terlalu panjang, saya bagi saja postingan kali ini menjadi dua bagian.
masa sih den?
mungkin orang-orang yg mirip gw itu ‘kembaran2′ gw yang menyebrang ke dunia kembarannya yg lain ya?
Comment by ruanee — May 19, 2007 @ 8:00 pm
@ruanee: bukannya itu topeng ya pra? ahahah… kalo terjadi nyebrang-nyebrang gitu, bisa mengganggu keseimbangan kosmik pra. entah apapun maksudnya itu.
Comment by dende — May 20, 2007 @ 1:11 am
Kayaknya intinya cuma satu. hidup kita punya banyak pilihan. pilihlah jalan yang aku anggap paling benar ??!!
Tapi den itu mungkin bisa terjadi. seandainya kita pernah mengalami “mimpi jadi nyata”. maka itu bisa jadi bahan acuan. kenapa kita dan dunia kita sau lagi terhubung.
atau mungkin dunia paralel itu adalah masa depan. kalau itu dilihat dari apa yang kamu jabarkan lho ya
mmm tapi sebaiknya kamu cepat cepat selesaikan artikel ini, AKU GA SABAR…..
Comment by Mandika — May 20, 2007 @ 8:21 pm
Den, pernah dengar ga kalo kita punya 6 kembaran di muka bumi ini yang sama persis dengan kita tapi berbeda nasib dan kalo ketujuh orang itu ketemu maka dunia kiamat. Hihihi,, biasalah dongeng ntah dari mana
Comment by Abie — May 21, 2007 @ 12:56 pm
@mandika: udahlah man, kalau kamu punya pandangan juga tentang ini, bikin juga tulisan tentang ini, bikin blog. hahah.
aritikel? hehe, engga juga. sabar ya. pasti dilanjutin kok.
@ abie: waw. dongeng darimana itu? keren juga. kamu sendiri udah pernah ketemu salah satunya belom?
Comment by dende — May 22, 2007 @ 1:31 pm
ternyata ada anak-anak muda yang bicara tentang ini…
Comment by hakimi — May 18, 2009 @ 10:13 pm
salah satu contoh misalnya:
coba cari cerita john titor di google, John ditugaskan kembali ke tahun 1975 untuk memperbaiki sebuah komputer IBM 5100 yang menurutnya diperlukan untuk men”debug” sebagian besar progam komputer di tahun 2036 mengacu pada “UNIX 2038 timeout error”. ( Ini mungkin sebuah istilah yang membingungkan dan harus menunggu 28 tahun lagi untuk dimengerti —pen). John Titor sengaja dipilih karena kakeknya terlibat langsung dalam pembuatan dan pemrograman komputer IBM 5100 ini. Mirip dengan kisah Back To The Future, John juga memasang mesin waktunya dalam sebuah mobil.
Comment by arif — August 19, 2009 @ 9:32 pm