Ini cerita ketika saya dan kakak saya pergi ke Gramedia Jalan Merdeka mencari buku yang dimaksud di sini. Dan kalau Anda belum baca, sebaiknya mampir kesana dulu.
Awalnya cuma menemani kakak memperbaiki printernya yang rusak di BEC. Karena diberitahu perbaikan akan memakan waktu satu jam, maka kami mengisi waktu menunggu dengan jalan-jalan ke Gramedia. Teringat sms teman saya itu, saya pun melakukan hunt buku yang dimaksud.
Agar pencarian berlangsung cepat, saya langsung berinisiatif bertanya di bagian informasi. Langsung berbicara dengan mbak-mbak bagian informasi [mmbi].
"Mbak, mau nanya buku EO For Teens dong, ada gak?"
"IO. gini mas?"
"bukan mbak, E O, singkatan dari event organizer"
"four tins?"
"bukan mbak, for teens, artinya untuk remaja"
"tinsnya dobel ‘e’ ato dobel ‘n’ mas?"
…
Pelajaran buat yang mau bikin toko buku, tolong kepandaian berbahasa Inggris resepsionis bagian informasi diperhatikan.
"di bagian psikologi mas."
Argh, akhirnya.
Hmm, foto saya terpampang di bagian psikologi. Menarik.
Mencarilah saya di bagian psikologi.
Kode 4xx Psikologi umum… tidak ada.
Kode 4xy Psikologi terapan… juga tidak ada.
Kode 4xz Psikologi anak… masa sih disini?
Kode 4yx Seksologi… Buset, tahu-tahu udah sampe disini. Masa iya, EO For Teens di Seksologi?
Kembali ke bagian informasi.
"Bisa tahu kodenya gak, mbak?"
"Bukunya gak ketemu ya mas? Kodenya ga ada, tapi petugas bagian itu ada, mau dipanggilin untuk bantu nyariin?" kata mmbi.
"Hmm, boleh deh."
Ternyata definisi dipanggilkan adalah, disebut namanya melalui speaker. Untung saya tidak menyebutkan tujuan saya mencari buku itu. Kebayang bunyi panggilannya:
"KEPADA PETUGAS BAGIAN PSIKOLOGI HARAP LAPOR KE BAGIAN INFORMASI. ADA MAS-MAS GEER DISINI YANG INGIN DIBANTU NYARI BUKU YANG MUAT MUKANYA DI COVER TANPA IJIN"
Dan itu dibacakan lewat speaker.
Mas-mas petugas bagian psikologi [mmpbp] pun datang dan ikut membantu mencari di bagian psikologi. Saya pikir dengan statusnya sebagai pegawai, dia punya cara yang lebih manjur. Tapi ternyata tidak. Dia melakukan hal yang sama dengan saya sebelumnya.
Kode 4xx Psikologi umum… tidak ada.
Kode 4xy Psikologi terapan…
Kode 4xz Psikologi anak…
Kode 4yx Seksologi… ARRGH.
Setelah 15 menit tanpa hasil, saya berinisiatif membatalkan pencarian. Saya mendekati mmpbp.
"Gak ada ya mas? Kalo gitu gapapa deh."
"Haduh, iya euy."
"Punten ya a’, keliatannya ada sedikit kesalahan. Harusnya buku tentang event organizer mah, adanya di bagian manajemen, bukan psikologi."
Semprul. Kenapa gak bilang dari tadi.
"Mau nyari disana aja a’?"
Karena rasa penasaran saya masih tinggi saya mengiyakan tawarannya.
Ditunjukkannya saya bagian manajemen.
Saya pun mencari. Di tengah-tengah pencarian saya, ternyata mmpbp tadi juga masih terus mencari. Bahkan juga karyawan yang lain. Salut saya akan prinsip manajemen gramedia yang mengutamakan kepuasan kustomernya. Tapi lama-lama jadi geli sendiri, mereka kelihatan serius dan sigap, padahal kalau bukunya ketemu toh saya cuma pengen lihat covernya saja. Hehe.
Jadi pengen ngebayangin muka mereka nanti jika bukunya ketemu,
"A’ ini bukunya.. hhah.. sudah ketemu… hh.. hah…."
Mmpbp ngos-ngosan.
"Tadi saya lari ke gudang di lantai atas. Untung ketemu disana…hhh."
"Wah, makasih ya mas. Segitunya. Saya cuma mau lihat covernya. Nah, ini loh mas. Ada foto saya. Hehe. Ngganteng kan mas saya ini. Nah, sekarang penasaran saya sudah ilang. Ini bukunya, silahkan ditaruh lagi di tempatnya. Kali ini yang bener ya mas, nanti kalo ada temen saya yang saya suruh cari buku ini biar mas gampang nyarinya. Sudah ya mas."
"…"
Oke, kembali ke dunia nyata. Setelah 15 kali putaran dan 2 kali bolak-balik ke kamar mandi. Pencarian masih menunjukkan hasil nihil. Yah, tampaknya saya tidak berjodoh dengan buku itu. Sekali lagi saya memutuskan menghentikan pencarian. Saya kembali mendekati mmpbp.
"Mas, kayaknya disini gak ada juga."
"Waduh iya euy. Punten pisan ya a’. Kayaknya buku yang aa’ cari itu emang bermasalah. Salah penempatan, salah jumlah stok tercatat, dsb, dsb. Dicari sampai ke lantai tiga juga ga ada a’. Sekali lagi punten ya."
Wew. Buku bermasalah. Apa gara-gara model covernya? Hahah.
Ketika akhirnya saya memutuskan untuk angkat kaki dari Gramedia tersebut, saya didatangi seorang mbak-mbak pegawai Gramedia [mmpg].
"Permisi, mas. Tadi nyari buku ini ya? EO For Teens?"
Mmpg menyodorkan buku yang dimaksud.
Hahaha. Hati saya sumringah. Ternyata ada…
Dan itulah pertemuan pertama saya dengan buku itu.
Setelah dapat bukunya, saya bingung. Niat awalnya kan cuma cari, lihat, kagumi kegantengannya model covernya, taruh lagi di tempatnya, lalu kabur. Lha, bukunya langsung mampir ke tangan saya, mau ditaruh dimana? Kalau ditaruh sembarangan begitu saja, mata-mata [eyes, bukan spy] tajam mas-mas pbp dan mmbi masih tertuju pada saya. Sebagai pelanggan yang nyusahin tepatnya. Jadi segan mau meninggalkan buku itu begitu saja, belum lagi kalau ternyata mereka tidak terima bukunya tidak jadi dibeli.
"Mas, ini bukunya ketinggalan."
"Oh, memang saya ga jadi beli kok."
"MAS, INI BUKUNYA KETINGGALAN*"
Akh, akhirnya beli juga. Itupun setelah dapat pertimbangan dari kakak.
"Den, kalo kamu ga beli, ada berapa kemungkinan sih, orang-orang bakal liat-liat buku, trus nemu itu kamu? Kamu yang nyari aja, ketemunya susahnya setengah mati, apalagi yang cuma liat-liat."
"Kalo kamu beli, kamu sudah membuka kemungkinan 6 orang bakal liat buku itu dan notice muka kamu disana"
[penghuni kosan saya ada 8, termasuk saya dan kakak saya -red]
Satu hal yang saya tangkap dari saran kakak saya. Kakak saya ingin adiknya eksis. Ugh.
Akhirnya terjadilah pertama kalinya dalam hidup saya, saya membeli buku karena covernya, bukan karena isinya.**
–
*Efeknya akan makin terasa jika sambil diacungkan pisau atau benda tajam lainnya.
**Berbeda dengan orang yang tertarik cover suatu buku lalu mencoba membaca isinya. Dalam kasus saya. Saya membeli buku HANYA untuk covernya. Tidak tertarik sama sekali membaca isinya…