Ya, seperti kebanyakan mahasiswa teknik Informatika angkatan 2004 lainnya, saya terpaksa mengisi liburan kali ini dengan sesuatu yang berbeda dari biasanya. Sesuatu yang disebut Kerja Praktek, salah satu beban mata kuliah yang bisa diambil di semester 7 nanti. Karena diharapkan pada saat semester 7 nanti para mahasiswanya sudah menyiapkan laporan tentang aktivitas Kerja Prakteknya masing-masing, secara logis artinya Kerja Praktek itu sendiri harusnya dilakukan sebelum semester pengambilan mata kuliah tersebut di kartu studi masing-masing [kecuali tentunya Anda adalah seorang yang mampu sedemikian hebatnya meramal masa depan sehingga bisa membuat laporan kerja praktek hanya dari ramalan masa depan Anda]. Dan juga karena masa kuliah yang tidak bisa diganggu gugat, konsekuensinya kami harus melaksanakan Kerja Praktek itu dengan merelakan seluruh waktu liburan kami.
Untuk Kerja Praktek ini, saya harus banyak bersyukur kepada Tuhan.
Pertama, saya bersyukur mendapat tempat Kerja Praktek di kampung halaman saya. Karena dengan begitu saya nantinya tidak perlu lagi membayar hutang moral ‘kapan-kamu-pulang-nak’ kepada orang tua. Dan dengan melakukan Kerja Praktek di kampung halaman itu artinya sama dengan pengiritan pengeluaran kantong sendiri [meskipun ada efek samping pada pembengkakan pengeluaran kantong orang tua], karena paling tidak ongkos tempat tinggal-sarapan-makan malam semua berserah kepada orang tua.
Kedua, berhubungan dengan yang pertama, saya bersyukur punya kampung halaman di Denpasar, bukan di kota-kota lainnya yang jauh dari peradaban, Timika atau Merauke misalnya. Tanpa bermaksud mendiskreditkan kota-kota tersebut, tentunya melakukan Kerja Praktek di kota terpencil bisa membuat Anda berpikir keras dimana menemukan tukang ramal yang benar-benar handal.
Di Bali sendiri, di masa-masa liburan seperti ini sedang terjadi high season. Ini salah satu hal yang entah harus saya syukuri atau sesalkan. Karena meningkatnya pangsa pasar pariwisata, berarti meningkatnya juga pangsa pasar seorang jejaka-muda-tampan-mendamba-perawan-cantik-bersahaja. Akan tetapi juga ikut meningkatkan angka-angka pada label harga benda-benda yang tentunya mematikan salah satu hobi saya, berhitung [menghitung selisih antara nilai tertera di label-label itu dengan nilai yang tertera pada lembaran-lembaran rupiah di dompet saya].
Ketiga, saya bersyukur ada perusahaan bernama Mitrais di Kuta, Bali. Tempat Kerja Praktek saya berlangsung. Software house ini kalau tidak salah pemiliknya orang Australia. Sejarahnya, seperti tahun berdirinya, siapa pendirinya, dimana berdirinya, kapan duduknya, dsb, saya kurang tahu persis. Tapi yang jelas perusahaan ini merupakan software house ternama di dunia. Kliennya datang dari berbagai negara. Bahkan ada negara yang meminta Mitrais membuat national defense system information-nya. Tapi di dalam negeri Indonesia sendiri, nama Mitrais kurang dikenal. Kata pembimbing saya, sih, karena memang Mitrais tidak melayani permintaan dari government Indonesia. Karena pemerintah Indonesia terkesan licik. Haha. Saya hanya bisa membenarkan. Apalagi setelah tahu bahwa dulu Mitrais dengan nama dagang lamanya [entah apa] pernah terlibat konflik dengan pemerintah Indonesia.
Bagi kami sendiri para trainee students di sana, Mitrais adalah perusahaan tempat Kerja Praktek yang layak dari segi kesejahteraan anggota. Selain uang saku yang lumayan, fasilitas yang ada membuat kami merasa nyaman disana.
Rasanya masih banyak hal lain-lain yang perlu saya syukuri selama melakukan kerja praktek ini. Bukan berarti tidak ada hal-hal yang kurang mengenakkan yang terjadi pada saya, akan tetapi saya lebih memandang akan jauh lebih bijaksana mengingat-ingat dan mensyukuri anugerah yang diterima dari-Nya dari pada menyesalkan dan mengutuk kesialan dan ketidak beruntungan yang terjadi pada diri. Meskipun nantinya mungkin akan ditemukan tulisan-tulisan lampiasan emosi dan kemarahan. Hehehe.