Saya benci sinetron.
Selain karena script yang 100% pasti niru, penyutradaraan yang jelek, akting yang payah, cerita yang aneh [kalau gak mau dibilang sampah], ada satu hal lagi [juga selain ratusan alasan lainnya], ceritanya yang terlalu good versus evil.
Pihak protagonis selalu digambarkan sebagai pihak yang putih, bersih, suci, tanpa cela. Sementara pihak antagonis selalu digambarkan sebagai pihak yang jahat, jahat, jahat, dan jahat. Dan biasanya [selalu] pihak protagonis ditindas oleh pihak antagonis tapi tidak pernah melawan. Tapi di ujung cerita protagonis pasti menang dan antagonis kalau tidak bertobat, ya menerima ganjarannya.
Wow, pelajaran moral yang berharga sekali ya.
Oke, enough with the crap. Poinnya adalah, saya tidak percaya hal semacam itu ada. Hal semacam baik putih suci tanpa cela dan hal semacam jahat jahat jahat dan jahat. Setiap orang pasti punya sisi baik dan buruk dalam dirinya. Pertanyaannya sekarang hanya, yang mana yang lebih dominan.
Kalau saya? Haha. Saya sengaja cari di blogthings.com dan mendapat dua tes ini:
| You Are 70% Evil |
|
|
| You Are 32% Good |
You try to do the right thing, but only when it works out in your favor anyway. You’re not exactly evil or without ethics, but you could be going down a pretty dark path. You probably have good intentions. You’ve just gotten comfortable with acting the way you do. Knowing the difference between good and bad is half the battle. Acting like a good person is the hard part. You are also probably: A bit jaded and cynical about life’s rules Right now you are on track to being: A petty criminal To be a better person: Help a friend in need, without being asked |
Haha, ternyata bisa pas begitu hasilnya. Hanya meleset 2%. Memang iya, ya? Saya sejahat itu?
Coba saya ingat-ingat ke’jahat’an saya:
- Saya suka mengejek orang [pendek, gendut, bulat, dll]
- Saya berbohong dengan sengaja
- Saya egois oportunis
- Saya ‘gak suka’an sama orang
- Saya jahil dan usil
- Saya tidak suka memberi sedekah ke pengamen di jalanan
- Saya kadang melanggar hukum
- Saya pernah korupsi uang
- Saya pemalas
- …
Akh, tidak tega melanjutkannya. Sudahlah, saya serahkan ke anda saja.
Maaf ya buat teman-teman yang sering saya jahati. Sungguh saya akan berusaha untuk lebih bertobat [refer ke poin kedua dari list di atas]
