Quote from here: Kay Eiffel: As Harold took a bite of Bavarian sugar cookie, he finally felt as if everything was going to be ok. Sometimes, when we lose ourselves in fear and despair, in routine and constancy, in hopelessness and tragedy, we can thank God for Bavarian sugar cookies. And, fortunately, when there aren’t any cookies, we can still find reassurance in a familiar hand on our skin, or a kind and loving gesture, or subtle encouragement, or a loving embrace, or an offer of comfort, not to mention hospital gurneys and nose plugs, an uneaten Danish, soft-spoken secrets, and Fender Stratocasters, and maybe the occasional piece of fiction. And we must remember that all these things, the nuances, the anomalies, the subtleties, which we assume only accessorize our days, are effective for a much larger and nobler cause. They are here to save our lives.
Quote from Stranger Than Fiction
Yeaaa…
Kenapa judulnya begitu, karena post ini dibuat setelah berhasil menyelesaikan dua file. Yang satu dokumen .docx berjudul draft proposal v1.1, satunya lagi file .pptx berjudul slide prepro v1.0.
S.T., here i come…
if ERP is implemented
killed by guilt
i’m sorry
Protected: this post is for you:
what a week!
pokoknya hectic banget dah.
Saya akan pulang ke Bali dalam rangka menghadiri pembakaran jenazah paman saya
Berangkat Senin malam dari Jakarta naik pesawat, baru balik Sabtu. Mohon doa selama perjalanan. Terima kasih.
not a poem
That night, i dreamt about her, again.
We talk, chat, joke around normally.
Like there was nothing ever happened between us,
beside a good friendship and a matching soul.
And now, we are strangers.
No, even worse, its like, we hope we don’t now each other
We throw our face everytime we met,
and we hope we never met.
I don’t know why i’m keeping this situation.
Maybe because this is the best way.
To kill that ‘little thing’ inside my heart.
The little thing that made me, can’t call us friends.
"Pernah kupikir ini tentang cinta. Oh, ternyata hanya sahabat setia."
dibalik acara jumat kemarin malam
saya kecewa sama seseorang,
karena dia melepaskan diri dari tanggung jawab dari suatu kepanitiaan di suatu acara karena suatu idealisme. Saking tingginya kebutuhan akan idelismenya, bahkan pada h-1 acara pun dia tidak menyempatkan diri untuk hadir barang sejenak, bahkan untuk sekedar sms menyampaikan excuse atau apa pun. Kalau pun memang mengejar idealisme itu, harusnya dia dari awal menolak tanggung jawab yang diserahkan padanya.
saya kecewa sama seseorang,
karena ketika teman-teman yang lain dan saya berharap dia datang, bukan hanya karena tanggung jawabnya, tapi juga karena nilai persahabatan, dia tidak juga datang. Dia tidak sempat merasakan nikmatnya kerja tim, meski dengan segala keterbatasan yang ada, tapi paling tidak, keringat, canda, tawa, dan lelah itu bisa menjadi suatu kisah klasik.
saya kecewa sama seseorang,
karena ketika teman-teman yang lain sudah berhenti berharap dia akan datang, tapi saya masih, dia tidak juga datang. Mungkin baginya saya sama seperti teman-teman yang lain. Yang berada pada kondisi ‘tidak ideal’ seperti yang diharapkannya itu. Pada kenyataannya saya menganggap dia mempunyai nilai lebih yang dibutuhkan oleh acara tersebut, meski tidak berada dalam tanggung jawabnya.
saya kecewa sama seseorang
karena di pagi hari keesokan harinya, hasil kerja keras itu menjadi sesuatu yang bisa dibanggakan. Ironisnya, terutama pada bagian yang harusnya menjadi tanggung jawabnya.
saya kecewa sama seseorang
karena dia tidak ikut menangis bersama, ketika hasil kerja keras semalaman itu harus diuji olehNya dengan setitik hujan bahkan detik-detik menjelang acara dimulai. Begitu juga dia tidak ikut tertawa lega bersama ketika ujian itu berhenti tepat pada saatnya, hingga semua kekhawatiran terbuang dan acara dapat berjalan.
saya kecewa sama seseorang
karena ternyata acara ini mungkin menjadi suatu tonggak perubahan pada organisasi tempat acara ini berjalan diatasnya. Dan dia tidak berada di dalamnya untuk ikut terlibat, padahal dengan segala keluhan-keluhannya akan idealismenya pada organisasi itu.
tapi saya lebih kecewa pada diri sendiri.
karena saya adalah adiknya, dan saya tidak bisa berbuat apa-apa atas kekecewaan-kekecewaan saya ini.
… the fuck
first, i felt incapabilities in my love life
after that, i felt uncomfortable at my unit
then, i felt stupid in any lectures
yesterday, i felt unaccepted in the class
now, i feel being such a trash
go dead den.